Arale66 Zone Freak

My curiosity is greater than the size of my body

Archive for the category “HOUSE!”

House! 11

11

Akhirnya, aku kembali ke rumah busuk ini. Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung dan berlindung, tapi tidak untukku. Kumasuki kamarku yang terletak di lantai dua. Tidak ada yang berubah dari posisi barang yang ada disini. Yang berbeda hanya rak buku yang bisanya tersusun rapi buku-bukuku di dalamnya kini kosong melompong. Lemari baju yang biasanya diominasi baju kaus oblong yang rata-rata berwarna hitam, biru, atau kelabu kini sedikit lowong disana sini. Yang terlihat hanya setelan jas, blazer dan gaun malam yang tak pernah ku sentuh maupun ku pakai.

Baca lebih lanjut…

House Ch 9 The Incident

Chapter 9

19.00

Tok-tok!!

Pintu kamarku diketuk dua kali.

“Hoi, Ren. Dinner yuk” terdengar suara cempreng Aoi dari luar kamarku.

“Ya” sahutku dari dalam kamar. Kondisi kamarku sekarang sudah mendingan. Buku-buku kuliah dan koleksi komikku sudah tersusun rapi di rak yang tersedia. Pakaianku juga sudah tertata rapi dalam lemari kayu minimalis berwarna coklat yang terletak di sebelah kasurku. Ku lap peluh yang membasahi pelipisku dengan lengan baju. Aku melangkah menuju pintu kamar dan mengeluarkan kepalaku.

“Duluan deh. Aku mau mandi dulu. Keringatan nih, gara-gara bebenah kamar” ucapku.

“Oke deh” Aoi pun melangkah menjauh. Beberapa saat kemudian aku mendengar lagi suaranya. Kali ini sepertinya Aoi menggedor pintu kamar Loki.

“Oi..!!! Papah. Dinner yuk!”

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak itu.

***

20 menit kemudian.

Selesai mandi, aku langsung turun ke lantai 1. Disana aku sedah melihat para penghuni asrama sudah menyantap makanannya masing-masing. Aku segera meminta jatahku pada Juru masak yang ada di Pantry. Kali ini aku tak melihat Vaeri, entah kemana dia.

Baca lebih lanjut…

House ch 10 Gomennasai

Chapter 10

Kulihat Aimizu menangis disamping Raito yang terlihat memegangi lengan kiri atasnya yang mengeluarkan darah.

“Semuanya jangan melawan! Kalau tidak ingin kepala teman kalian dilubangi oleh besi panas” kulihat kepala Aoi sudah ditodongi pistol oleh ayahku. Bibirnya berdarah, sepertinya tadi terjadi pertarungan yang cukup sengit di ruang makan.

Kulihat pedang bambu yang tadi Tio pakai sudah terlempar ke tepi kolam dan patah menjadi dua. Tio sendiri sudah terduduk sambil terengah-engah dengan pelipis mata sobek oleh benda tajam. Vebra dan Haite yang pingsan di sudut ruangan. Takase, anak yang baru kukenal tampak mengerang menahan sakit lengannya yang dipegangi oleh Kamatari. Ai dan Kyouchi terlihat duduk ketakutan di dekat tangga. Seorang pengawal yang masih segar bugar terlihat menarik sesosok tubuh dari dalam kolam dan menghempaskannya ke lantai dan itu sosok yang ku kenal. Itu Roku.

Ini keterlaluan!

“Ayah! Apa-apaan ini! Ayah keterlaluan!” teriakku. Air mataku sudah merebak membasahi pipiku.

“Ini salahmu! Kalau kau tidak melawan dan mau ikut dengan cara baik-baik, hal ini tidak akan terjadi pada begundal-begundal ini” katanya dengan wajah penuh benci.

“LALU MAUMU APA!!!” teriakku marah.

Baca lebih lanjut…

House! ch 8 Where My House?

8

Where My House?

PLAK!!!

“Anak kurang ajar!” Ayah kembali meneriakiku. Pipi kananku kembali memerah setelah terkena tamparan keras dari punggung tangannya yang tak sempat ku elakkan.

“Ayah…Jangan…” Ibu hanya bisa menarik mundur ayah agar tidak terlalu dekat denganku.Air matanya berlinang membasahi kedua matanya yang memerah karena tangis.

“Memangnya Ayah tahu apa tentang diriku?! Memangnya peduli apa Ayah pada hidupku?! Ayahhanya mementingkan keinginan Ayah saja!!” teriakku sambil memegangi pipiku yangmulai terasa nyeri.

“Kau…!!!”Ayah kembali mengangkat tangannya siap menamparku.

“Ayah, jangan!” Ibu memegangi lengan Ayah yang akan terayun.

“Ini hidupku, Yah! Aku yang menjalani, bukan Ayah!” Aku segera menyandang tas ransel ke pundak kurusku dan segera berlari meninggalkan sarang buaya yang sudah taksanggup lagi kutinggali.

“Rena!!!Kembali!!!” teriakan Ayah dibelakang tak kuhiraukan. Kupercepat langkahku. Tapi kemana? Entahlah. Terserah kemana kaki ini melangkah. Yang pasti aku sudahtidak tahan hidup di rumah itu!

***

Baca lebih lanjut…

HOUSE! ch 7 Remember!

7

Remember

Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Vaeri, aku kembali kekamarku karena barang-barangku masih berantakan. Ruang makan-pun sudah kosongkarena para penghuni sudah kembali ke kegiatan masing-masing. Tadi, Aimizu danRaito yang pergi keluar asrama, dan Ai yang pergi ke toko buku. Sedangkan Riku yang kembali ke kamarnya karena tugas Kanji-nya belum selesai. Roku (seperti kata Gie, dia merasa tak enak hati padaku) berulang kali meminta maaf padakudan pergi menuju tangga sambil melemparkan cengiran padaku yang masihberbincang dengan Vaeri.

Saat melangkah menuju tangga, Gie menghampiriku.

“Ren-san teman lama Vae-chan ya?” tanyanya.

“Iya. Dia seniorku saat di sekolah dasar dulu” jawabku. Kami berjalan beriringan menaiki tangga menuju lantai 2. Kali ini kami melewati tangga sebelah kiri.

“Apa dia populer saat sekolah dulu?”

“Kenapa kau tanyakan hal itu? Jangan-jangan kau…” tanyaku dengantatapan menyelidik.

“Apa? Aku Yaoi? Enak saja!!! Aku lelaki tulen!” katanya berang.

“Yah siapa tahu… Soalnya dari awal aku mengenal seluruh penghuni asrama ini, satu hal yang tertanam di pikiranku” jawabku dengan tampang serius.

“Apa?”

“Kalian semua ANEH!” tegasku sambil memandang wajahnya.

Gie tertawa lepas sambil memegangi perutnya.

“Memang” kataya pendek namun pasti.

“Kan!” lanjutku membenarkan.

“Awal tahun ajaran baru lalu, saat aku baru menjadi penghuni asrama ini, aku juga berfikir seperti itu. Apa lagi saat melihat Aoi dan Ale”

“Ale? Siapa?”

Baca lebih lanjut…

House! Chapter 6 About YAOI en YURI?

About YAOI en YURI?

“Walah… Bodohnya diriku tidak menyadarinya… Padahal aku sudah mengenal orang seperti Aoi” ratap Roku kecewa.

“Apa maksudmu dengan ‘mengenal orang seperti AOI’, hah!” bentak Aoi dari kejauhan.

“Ahaha… Ampun senpai” tawa Roku hambar.

Kulihat dari kejauhan. Riku, yang sekarang duduk di sebelah Ai, Kamatari, dan Kyouchi masih sibuk tertawa.

“Dasar! Memangnya siapa sih yang tadi berteriak saat aku ganti baju? Dia juga, kan?”, rutukku dalam hati.

Berbeda dengan wajah Ai, Kamatari dan Kyouchi yang menampakkan raut kekecewaan mendalam. Dan Vebra dan Haite yang awalnya shock, kini saling padang dan berbisik sambil sesekali terkikik dan berulang kali melirikku sambil melempar tatapan jail. Tio yang dari tadi hanya memperhatikan apa yang terjadi, angkat bicara.

“Ren-san bisa jadi pasangan Yuri-nya Aoi, donk. Nanti kalau kalian mau begituan, jangan lupa direkam ya. Biar bisa kutonton.” Katanya sambil nyengir. Vebra dan Haite-pun dengan lantang menyetujui permintaan Tio.

“Aku juga mau ikutan!”, timpal Gie ikut ambil bagian.

“Anak kecil tidak boleh!”, Haite mendorong kepala Gie.

“Tidak adil! Vebra boleh, kenapa aku tidak boleh? Kami kan seumuran” Gie-pun memasang tampang kesal dan membalas mendorong Haite.

Aku yang mendengarkan mereka berdebat Cuma bisa memasang wajah bingung. Yaoi itu apa? Kalau Yuri? Kenapa banyak istilah-istilah aneh disini? Saat aku sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba bel yang terletak di Pantry berbunyi.

TING!

Baca lebih lanjut…

HOUSE! ch 5 In Refectory

5
In Refectory

Tapi, saat Tio ingin membalas perkataan Aoi, Roku telah memanggil kami.

“Aoi, bisa tolong kemari sebentar? Yang lain juga tolong berkumpul sebentar”

Kamipun segera melangkah menuju ruang makan tempat Roku dan beberapa penghuni asrama lain berkumpul. Roku berdiri dari duduknya, akupun melangkah dan berdiri di sebelahnya, mengatur posisi menghadap para penghuni asrama yang duduk dihadapan kami.

“Teman-teman, perkenalkan ini penghuni baru asrama kita, Ren Aditya. Dia anggota lantai langit kamar 307. Semoga kita semua bisa akrab dengannya”

Saat Roku pemperkenalkan aku, aku sempat melihat 3 orang penghuni perempuan berbisik-bisik sambil tertawa kecil dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Apa ada yang salah dengan wajahku atau caraku berpakaian? Aku langsung memperhatikan kembali pakaian yang kukenakan. Baju kaos oblong yang kukenakan baru saja kupakai hari ini karena baru kubeli kemarin siang. Sedangkan celana jins yang kupakai memang belel, tapi tidak berlubang di tempat yang memalukan, dan resleting celanaku terpasang dengan baik. Diwajahku pun tak ada sesuatu yang menempel.

“Kyaaa… kawaii…” sesaat tadi aku mendengar cekikikan mereka padaku yang sibuk memperhatikan diriku sampai tak menyadari kalau Roku memintaku memperkenalkan diriku secara pribadi.

“Ha? Apa?” tanyaku linglung.

“Silakan perkenalkan dirimu secara pribadi” ulangnya.

“Oh. Baiklah. Perkenalkan, namaku Rena Ditya. Tahun ke 3 AkaDai. Mohon bantuan dari semuanya” kataku sambil sedikit menganggukkan kepalaku.

“Baiklah, kita juga akan memperkenalakan diri agar Ren-pun dapat mengenal kita. Karena aku sudah berkenalan dengan Ren di Kantor Kak Ken, sebaiknya kita mulai perkenalan dari ketua asrama tahun lalu. Didi-san, silakan.” Roku mempersilakan seseorang memperkenalkan diri. Tapi, tidak ada yang berdiri maupun berbicara sepatah katapun.

“Didi-san?” panggil Roku sekali lagi. Tiba-tiba seorang penghuni asrama dengan wajah takut-takut berkata sambil menunjuk sosok disebelahnya.

“Ano… Roku, Didi-san sedang…” sambil menunjuk ke arah seorang pemuda tambun yang sedang terpekur diatas meja dengan posisi pipi menempel pada permukaan meja. Lengannya yang gemuk terjuntai lunglai di bawah meja. Sambil mengerang dan sesekali memegangi perutnya, pemuda itu mulai menggerutu.

“Sial… Kenapa pesananku lama sekali datang… Laparnya…”

“Didi-san, Roku memanggilmu” bisik gadis berambut kepang dua yang digelung ketat itu pada pemuda disebelahnya.

“Hah!” hardiknya dengan wajah marah.

Gadis itu pun terkejut. Air mata mulai membasahi pelupuk matanya. Isaknya mulai terdengar.

“Arara… Gomen Zao, aku tidak bermaksud menghardikmu” katanya panik dan berusaha menghentikan tangisnya..

Gadis itupun mengangguk dengan cepat dan menghapus air matanya.
“Aku tidak apa-apa” katanya sambil sesekali terisak.

Aku awalnya iba melihat gadis bernama Zao itu menangis. Tapi, saat melihat reaksi para penghuni lain yang hanya terkikik, aku jadi tahu kalau itu hal biasa di sini.

“Didi-san. Silakan…” ulang Roku.

Pemuda itu pun berdiri dari duduknya.

“Ah… Baiklah…Saya Didi, penjabat ketua asrama tahun lalu. Tahun ke 3 AkaDai. Semoga kamu bisa betah tinggal di asrama ini yang walaupun penghuinya sedikit aneh, tapi jiwa kekeluargaannya tinggi. Oh iya, saya juga penghuni lantai Langit, kamar 301” katanya cepat dan kembali terpuruk di atas kursinya. Sesaat kemudian salah satu juru masak mengantarkan pesanan Didi yang sudah dinanti dengan tatapan kelaparan oleh si pemesan.

Aku tersenyum simpul dan menganggukkan kepala pada Didi yang sekarang sudah berkonsentrasi makan dihadapan semangkuk besar Ramen dengan banyak naruto didalamnya.

“Baiklah, selanjutnya siapa?” tanya Roku. Kemudian perkenalkan pun bergulir dengan lancar.

“Hai, Nii-chan. Aku Vebra, kelas 3 SMA Yayasan AkaDai. Aku penghuni lantai Bumi, kamar 201. Ini teman sekamarku” katanya seorang pemuda yang dari tadi memegang kipas lipat berwarna putih sambil menunjuk rekan sekamarnya dengan kipas lipatnya.

“Yo! Aku Haite Hotaru. Tahun satu AkaDai. Yoroshiku” kata pemuda berambut ikal yang kulihat dari tadi kulihat menyilangkan lengannya ke bahu Vebra.

Didepan Vebra dan Haite duduk Aimizu dan Garaito yang dikenalkan Roku saat aku baru sampai di asrama ini. Mereka melambai ke arahku dan tersenyum lebar.

“Tadi kita sudah berkenalan, kan. Aku dan Raito penghuni Lantai Bumi. Aku di kamar 209, sedangkan Raito dikamar 208” kata Aimizu.

“Dan kalau malam, kami sering tidur berdua” celetuk Haite sambil memperagakan adegan berpelukan dan berciuman (tentu saja bohongan) dengan Vebra didepan semua penghuni yang hadir di Ruang makan itu. Tawa membahana seisi Ruang Makan. Tapi, suara tawa itu tidak keluar dari mulut Aimizu. Melainkan…

“Haite, Vebra… sudah pernah merasakan dibakar diatas panggangan belum?” Aimizu menatap tajam kedua pemuda itu sambil tersenyum tapi dengan mata penuh nafsu membunuh. Kedua pemuda itu langsung terdiam membatu dan menunduk memandang lantai.

Di sebelah kanan Aimizu dan Raito duduk 3 orang gadis yang dari tadi sibuk berbisik dan cekikikan.

“Hai, Ren… Aku Ai Chihiro” salah satu dari mereka berbicara. “Yang ini, Kyouchi” sambil menunjuk anak yang duduk ditengah. ”Disebelahnya, Kamatari” katanya cepat. “Aku tahun 2 AkaDai. Kamar 309 disebelah kamar Riku” lanjutnya.

“Aku kelas 3 SMA Yayasan AkaDai, sama seperti Vebra. Lantai Bumi kamar 211” Kyouchi menambahkan dengan cepat.

“Aku tahun pertama AkaDai. Sekamar dengan Kyouchi” Kamatari, gadis dengan potongan rambut Bob layer itu pun ikut menjelaskan.

“Ano… Boleh kami bertanya pada Ren-san?” pinta Ai.

“Ya?” tanyaku.

“Ren-san tipe Uke atau Seme” tanyanya.

“Apa?” tanyaku heran tak mengerti maksud dari pertanyan itu.

“Kau terlalu langsung Ai!” bentak Kamatari. Dan Kyouchi segera membekap mulut Ai dengan tangannya.

“Jangan pikirkan pertanyaan anak ini. Dia masih ngelindur, maklumlah tadi malam dia sampai begadang untuk membaca komik Yaoi” ujarnya.

“Kau juga terlalu langsung!” ujar Kamarati berang dan segera membekap mulut Kyouchi dan tertawa hambar padaku.

Melihat kejadian itu aku tak bisa menahan tawaku. Penghuni lain juga banyak yang tertawa lapas melihat tingkah mereka bertiga.

“Arara… Kalian tidak boleh menggodanya nona-nona. Karena dia sudah jadi mi-lik-ku… Dia Uke-ku” Tiba-tiba Aoi merangkul pinggangku dari belakang dan menempelkan pipinya di pipiku.

“KYAAAA!!!!!” Ai, Kamatari, dan Kyouchi kegirangan melihat adegan itu. Kulihat muka Haite dan Hotaru yang Shock, dan Zao dengan muka memerah menutup wajahnya dengan telapak tangannya sambil sesekali mengintip diantara celah jarinya. Riku hanya terkikik geli. Tapi bukan pada ku ataupun kelakuan Aoi padaku, tapi pada ketidaktahuan para penghuni asrama tentang suatu hal yang apabila dikatakan akan menyebabkan kegemparan.

Tiba-tiba…

“Mamah… Bisa nggak jangan selingkuh di depanku” Loki yang dari tadi tidak terlihat tiba-tiba muncul dari belakang punggung Aoi sambil membawa semangkuk sup jagung dengan harum yang menggoda. Entah kenapa Aoi melepaskan dekapannya padaku dan berteriak.

“SUP JANGUNG!!!! Papah… Aku mau…” katanya sambil menggapai-gapai udara kosong karena mangkuk itu diangkat Loki tinggi-tinggi diatas kepalanya.

“Dasar kau ini” menurunkan mangkuk itu dan Aoi segera menyambarnya, membawanya kabur ke meja paling belakang Ruang makan. Loki kemudian menatapku dan berkata dengan dengan suara yang cukup untuk didengar semua penghuni.

“Ap tak sebaiknya kau katakan bahwa kau itu seoran Perempuan? Karena, sepertinya banyak penghuni yang menyangkamu lelaki” ucapnya sambil melangkah menjauhi gerombolan kami.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

“APA….!!!!!!!!” Teriak mereka bersamaan. Tak terkecuali Roku yang sekarang mulai menatapku dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas kemudian menggelengkan kepalanya dan jatuh terduduk.

HOUSE ch 4 As same as

4
As same as

“AOI L. RYUUZAKI!!! BANGUN!!! INI SUDAH SIANG!!!”

Disusul suara barang-barang yang berkelontangan dengan suara keras. Sesaat kemudian Riku keluar dari kamar itu sambil menarik pemuda lusuh dengan rambut yang acak-acakan yang sedang menggosok-gosokkan punggung tangannya pada matanya yang masih terlihat sembab. Setidaknya aku menganggap dia lelaki sebelum aku melihat dua gundukan samar yang menggantung di dadanya dan mendengar suaranya yang tinggi dan tipis. Ya… Itu suara anak perempuan kebanyakan.

“Ren-san, perkenalkan. Ini Aoi L. Ryuuzaki tahun ke 3, Akamaru Daigaku” Riku memperkenalkannya padaku.

“Lalu Oin yang mau kamu bangunkan?” tanyaku.

“Ini orangnya” Riku tersenyum lebar dan menunjuk Aoi. Aku semakin tidak mengerti.

“Dia yang seenaknya memanggilku Oin-Oin. Memangnya aku babi” Aoi mulai berbicara sambil mengucek-ngucek kepala Riku yang tak lebih setinggi dadanya. Riku hanya cengar-cengir saja.

“Oh… Halo” aku mengulurkan tanganku.

“Kamu penghuni baru itu ya” Aoi meraih uluran tanganku dan menarikku kedalam pelukannya.

Aku kaget, tapi tak dapat berbuat apa-apa.

“Hm… Kita sejenis yah… Gak asik ah…” celetuknya sambil melepaskan pelukannya. Menguap lebar dan melangkah meninggalkan aku dan Riku dibelakang.

“Ayo Ren…” Riku menarikku, menyamakan langkah dengan Aoi, dan segera melangkah menuju tangga.

Tiba-tiba Aoi berbalik dan berteriak keras kearah kamar bernomor 311 yang letaknya diseberang lorong yang kami lewati.

“GIE!!! MAKAN YUK!!!”

“YA!!!” terdengar jawaban dari kamar itu dan beberapa saat kemudian keluar sosok pemuda berkulit putih berkacamata dan berjalan menghampiri kami. Dan kamipun segera menuruni tanga.

Aoi yang masih terlihat terkantuk-kantuk segera merangkul pundak pemuda itu dan bergelayut manja.

“Gie, aku nggak ada duit. Boleh pinjam nggak

“Eh… Lagi? Yang kemarin saja belum kakak kembalikan”

“Onegai… Kamu kan adikku tersayang” Aoi mengeluarkan suara manja.

“Tidak!” jawabnya tegas.

Aoi segera berdiri tegak dan mendorong Gie setelah melepas rangkulannya.

“Pelit!”

Akibat dorongan Aoi, tubuh Gie kehilangan keseimbangan dan oleng ke depan sehingga kakinya tidak mantap menyentuh anak tangga terakhir.

“Gie, Awas!”

Nyaris saja wajah Gie sukses mencium lantai, kalau saja tidak ada seseorang yang menangkap pinggangnya dari bawah.

“Arara… Gie, aku tahu kau sangat rindu padaku, sampai-sampai kau melompat dari anak tangga untuk menyambutku. Tapi tak bisakah kau menunggu sampai malam tiba? Agar aku bisa mempersiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan nanti malam terlebih dahulu…” suara menggoda itu keluar dari sosok seorang pemuda tinggi berkulit hitam dan berkacamata yang mengenakan setelan hakama lengkap dan menyandang buntalan berisi pedang bambu di pundaknya.

“Haah… Yokatta… Untung kau sempat menangkapnya Tio” Riku menghela nafas lega.

“Good job Tio-chan!” Aoi mengacungkan jempolnya. Dan dibalas oleh pemuda bernama Tio itu dengan kedipan. Akupun menyadari bahwa kejadian barusan sudah direncanakan oleh Aoi dan Tio dari awal.

“Lepaskan aku!” teriak Gie mulai berontak dan bersiap melayangkan tinjunya kearah ulu hati Tio dan sayangnya Gie hanya meninju ruang kosong karena sesaat sebelumnya Tio telah berputar dan berjalan kearahku yang baru saja melangkah menuruni anak tangga terakhir.

“Ara… Ternyata selama kepergianku, ada penghuni baru yang menambah semaraknya asrama kita” katanya padaku sambil mengulurkan tangan.

“Satu lagi penghuni aneh”, begitu pikirku dan menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku.

“Ren”, kataku pendek.

“Tio. Senang berkenalan denganmu” dia tersenyum.

Tiba-tiba Aoi memukul tangannya hingga tanganku yang sesaat tadi masih menjabat tangannya terlepas.

“Ini tidak sesuai perjanjian, Tio-chan” Aoi menatap tajam kearahnya seolah ingin memakannya hidup-hidup.

HOUSE! ch 3 Wanna be Home Sweet Home

Chapter 3
Wanna be Home Sweet Home

“Dan inilah lantai tempat kau tinggal, Lantai Langit

Biru… Sepanjang ku memandang hanya biru yang terlihat. Luar biasa indah. Langit-langit lorong lantai ini dilukis menyerupai langit berawan yang menentramkan hari. Walaupun dibeberapa titik terdapat pot-pot tanaman hijau tapi tetap saja yang mendominasi adalah wana Biru.

“Bagaimana?”

“Luar biasa. Kurasa aku akan betah tinggal disini. Akupun jadi tahu alasan kau bilang ini Wonderland. Ini benar-benar dunia antah berantah tempat keidahan dan keanehan berkumpul”

Roku tersenyum puas.

“Ayo, kamarmu di sebelah sini” Roku membukakan kamar dengan plat nomor kamar 306 yang terbuat dari lempengan berbentuk awan.

“Barang-barangmu yang sampai kemarin sore sudah di dalam, tinggal kau susun di rak dan lemari yang sudah disediakan asrama. Kamar mandi ada di sebelah kanan pintu masuk, dan ini kunci kamarmu” Roku menyerahkan dua buah kunci ke telapak tanganku.

“Kunci satu lagi itu kunci pintu menuju beranda kamarmu” jelasnya sebelum aku bertanya.

“Oke, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa langsung saja ke kamarku, kamar 303” Roku pun melangkah meninggalkanku yang kemudian meletakkan tas ransel yang dari tadi kusandang dibahu kurusku.

HP ku tiba-tiba berdering. Ada SMS masuk dari tanteku.

Ren-chan~ Bagaimana asramamu? Bagus kan?
Soal biaya bulanan sudah tante lunasi
sampai 6bln ke depan.
Klw ada apa2 hbungi saja tante, oke! \(^-^)/~

Sender:
+0909888xxxxx

Aku segera membalas kilat SMS itu.

From:
+0909866xxxxx

Thx tante! Asramanya bgs.
Smg aQ bs btah…

Aku segera keberanda dan memandang pemandangan kota yang terlihat jelas dari sini. Belum puas aku memandang sekeliling, tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. Saat kubuka…

“Hai…!” seseorang menyapaku, tapi tak terlihat siapa-siapa. Siapa sih yang jahil? Begitu pikirku.

“Dibawah-dibawah… Menunduk dong…” Suara itu terdengar lagi.

Aku melihat seorang gadis berambut panjang sepinggang yang dikepang satu. Kurasa tingginya tidak lebih tinggi dari Aimizu.

“Ya?” tanyaku heran.

“Penghuni baru ya? Kenalkan, Riku Harada, penghuni kamar 308 tahun ke 2, Sastra, Akamaru Daigaku” si mungil itu mengulurkan tangannya.

“Ren” jawabku pendek dan menyambut uluran tangannya.

“Wah, Pria tampan bertambah satu lagi di asrama ini. Oh iya, karena sekarang sudah jam makan siang. Roku-san menugaskanku menjemputmu. Ayo kita ke ruang makan. Semuanya sudah menunggumu”

“Oh, Baiklah. Aku ganti baju sebentar, kau boleh tunggu di dalam” aku mengajaknya masuk ke ruanganku. “Maaf berantakan, aku belum sempat menyusun barang-barangku”

“Santai saja… Kamarku jauh lebih berantakan daripada ini” Riku tersenyum manis.

Aku tertawa. Saat aku menanggalkan kaos oblong yang kupakai, tiba-tiba…

Kya…!!!” Riku berteriak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Ada apa?” tanyaku panik.

“Kenapa kau tiba-tiba melepaskan bajumu di depanku? Teriaknya.

“Memangnya kenapa?” tanyaku heran. “Toh kita sama-sama perempuan, kan? lanjutku.

Rikupun menurunkan tangannya perlahan. “Kamu perempuan, ya?”

“Jadi, kau kira aku laki-laki?” aku berdiri sambil berkacak pinggang. Keningku berkerut.

“Ah… Kau pakai bra… Ternyata kau perempuan ya…”celetuknya lucu.

Akupun tak dapat menahan tawa mendengar celetukannya yang polos. Setelah mengganti baju, aku dan Riku segera berjalan keluar kamarku. Tapi entah kenapa setiap melihat wajahnya aku terkikik terus.

“Sudah dong… Ini kedua kalinya aku dipermalukan seperti ini. Bodohnya aku, tidak bisa membedakan mana yang perempuan dan mana yang lelaki” Riku cemberut dengan pipi bersemu kemerahan.

“Maaf-maaf” aku berusaha menghentikan tawaku. Rasanya seharian ini aku sudah terlalu banyak mengeluarkan bermacam ekspresi. Pasti gara-gara orang-orang aneh di asrama ini.

“Ah, chotto. Aku mau membangunkan Oin dulu” Riku pun segera menuju Kamar 307 yang terletak persis di sebelah kamarku.

Dia menggedor-gedor pintu kamar sambil sesekali memanggil si pemilik kamar. Menurutku Oin itu nama yang sedikit aneh. Aku jadi penasaran seaneh apa pula pemilik nama itu. Tapi, berkali-kali Riku menggedor kamar itu, si empu-nya kamar tidak keluar juga.

“Masuk saja Riku-chan. Pintu kamarnya kan biasanya tidak pernah dikunci” Tiba-tiba pria berbadan besar sudah berdiri disebelahku sambil menggaruk-garuk kepalanya dan menguap lebar.

“Tapi Loki-san…” Riku menatap pemuda itu dengan pandangan ragu.

“Kamu mau menyuruhku yang masuk?” Loki member penawaran.

“Tidak. Biar aku saja” Riku menggeleng dengan cepat dan segera masuk ke kamar itu.

Loki pun segera meninggalkan kami. Tapi, baru beberapa langkah dia berjalan, Loki kembali membalikkan badannya dan menatapku.

“Kamu penghuni baru itu ya?” tanyanya padaku sambil memperhatikanku dari kepala sampai kaki.

“Ya!” jawabku tegas sambil melempar pandangan tidak suka karena tatapannya seakan menilaiku.

Loki mengangguk-angguk dan pergi meninggalkanku yang masih menatapnya tajam.

“Haah… Kenapa anak barunya sejenis sama si Aoi sih?” keluhannya terdengar jelas olehku.

Saat aku ingin bertanya dan protes dengan maksud kalimatnya itu, tiba-tiba aku mendengar lagi teriakan Riku.

HOUSE! ch 2 Hi! I’m New Member. Yoroshiku!

Chapter 2
Hi! I’m New Member. Yoroshiku!

Disini, sekarang, dihadapanku, aku benar-benar tidak menyangka kalau ini adalah sebuah gedung asrama.

Gedung ini dari luar terlihat seperti bangunan persegi biasa yang menjulang setinggi 3 tingkat. Bangunan membosankan seperti bangunan lainnya yang biasa kita lihat di mana saja. Tapi, penilaian itu tidak berlaku disini. Di tengah bangunan ini terdapat kolam renang yang dikelilingi oleh beberapa ruangan terbuka yang hanya dibatasi beberapa sekat pemmbatas yang salah satunya terlihat seperti ruangan makan bersama.

Dindingnya dihiasi cat berwarna mencolok. Disisi kiri, dindingnya dicat hijau toska dan merah menyala? Perpaduan yang tidak biasa. Saat kutolehkan kepala kekanan, aku menemukan perpaduan warna ungu dan biru langit. Cukup norak juga.

“Kau pasti terkejut melihat dalamnya, kan?” Roku tersenyum bangga.

“Yah…” aku tak tahu harus berkomentar apa. Penataan ruangan disini cukup aneh. Apalagi dengan adanya kolam renang ditengah ruangan. Hahaha, aku hanya bìsa menggeleng tak percaya.

Diatas kolam aku bisa langsung melihat langit biru yang hari ini sedikit ditutupi gumpalan awan yang terlihat seperti gumpalan kapas yang berenang di langit.

Roku memintaku mengikutinya ke tepi kolam.

“Seperti yang kau lihat, disebelah kiri kita itu ruang makan. Kami biasanya makan bersama di sana baik pagi, siang ataupun malam. Kalau kau ingin tahu menu harian yang tersedia, kau bisa melihatnya di papan tulis yang terletak di samping pintu itu” Roku menunjukkan sebuah papan tulis berukuran 60×100 cm yang terletak di sebelah kiri sebuah pintu berwarna kuning.

Terlihat sesosok wanita berusia sekitar 40an tahun keluar dari pintu itu sambil melepaskan celemek bernoda yang sesaat tadi masih dikenakannya di pinggang. Sepertinya ruangan berpintu kuning itu dapurnya.

“Kalau kau ingi makanan diantarkan ke kamarmu juga bisa, telepon atau SMS saja HP salah satu juru masak. Kau juga bisa memesan menu yang tidak ada di daftar menu sehari sebelumnya supaya juru masak asrama kita bisa mempersiapakan bahannya terlebih dahulu” lanjutnya.

“Oh,ya? Wah, praktis sekali” kalimat terakhir yang dilontarkan Roku amat mengoda imanku, sang pemilih-milih makanan.

“Kau tahu, juru masak disini sangat ahli. Kau bisa memesan masakan apa saja. Mulai dari masakan daerah, masakan Barat, India, China, Bahkan Jepang. Aku masih ingat enaknya Nasi Kare yang minggu lalu ku makan. Hm… Yummy…” Roku menerawang jauh berusaha mengingat sesuatu.

Aku tertawa melihat tingkahnya yang sedikit kekanakan dan berfikir apa alasan dia bisa terpilih menjadi ketua asrama.

“Ah, iya yang di sebelah kanan ujung itu ruang mencuci. Disana terdapat beberapa mesin cuci yang bisa kau gunakan. Tapi, detergent dan ember kain harus kau sendiri yang menyediakan. Lalu, kau bisa menjemurnya di atap gedung. Disana sudah tersedia tempat untuk menjemur pakaian anak-anak asrama ini. Tapi, kalau cuaca mendung atau hujan, kau bisa menjemur pakaianmu di beranda kamarmu” Roku menunjuk Ruangan dengan pintu kaca yang terletak di ujung ruangan dekat pintu masuk.

“Disebelahnya itu kamar Para juru masak Asrama. Sebagian dari mereka tinggal disini, tapi ada juga yang tinggal di rumahnya sendiri. Disebelahnya lagi, kamar Pengawas Asrama. Kak Ken biasanya tidur disana”

Tiba-tiba dari pintu masuk terdengar suara pertengkaran antara laki-laki dan perempuan. Saat pintu terbuka, aku melihat seorang pemuda berkulit agak gelap menggaruk kepalanya yang berambut landak dengan pasrah. Didepannya, seorang gadis bertubuh mungil melangkah cepat sambil melemparkan makian-makian pada si pemuda.

“Ya… Tapi kan kita bisa selesaikan dengan baik-baik” si rambut landak mulai membela diri.

“Kamu terlalu lembek! Mereka itu cuma memanfaatkan kamu! Masa’ kamu nggak sadar, sih?!” si gadis memutar tubuhnya menghadap si landak.

“Oke-oke. Aku minta maaf. Mulai sekarang aku akan lebih selektif” mohon si rambut landak.

“Hh… Ya sudah” si gadis mulai melunakkan suaranya.

Akhirnya mereka menyadari keberadaan kami dan muka mereka bersemu merah saat sadar bahwa pertengkaran mereka tadi didengar oleh orang tak dikenal.

“Hoi, Roku. Siapa pemuda yang disebelahmu itu?” si rambut landak mulai bisa mengendalikan rasa malunya dan melangkah menuju tempat kami berdiri, diikuti oleh si gadis mungil.

“Penghuni baru” jawab Roku pendek.

Aku menganggukkan kepala.

“Ren, kenalkan salah satu Sejoli di asrama ini. Garaito dan Aimizu” Roku memperkenalkan mereka berdua padaku. “Ini Ren Aditya, penghuni baru asrama kita. Dia akan menempati kamar 306” lanjut Roku.

“Halo” sapaku pendek sambil menjabat tangan mereka berdua.

“Semoga kita bisa menjadi teman yang kompak. Panggil saja aku Raito” si landak memperkenalkan diri.

“Hai, aku Aimizu. Panggil Mizu saja. Aku tahun ke 2, Akamaru Daigaku. Sedangkan si jelek ini anak tahun 1” Aimizu memberi penjelasan padaku.

“Yoroshiku” aku tersenyum pada keduanya.

“Kalau ada perlu apa-apa Tanya saja padaku, jangan malu-malu” Raito menepuk-nepuk punggungku sambil nyengir kuda.

“Ah, kami harus pergi. Bye…” tiba-tiba Aimizu menarik lengan Raito menjauh dari kami menuju lantai atas. Aku melambaikan tangan sebentar dan kembali menatap Roku yang sesaat tadi sibuk dengan HP-nya.

“Lalu, kamarku disebelah mana?”

“Ada dilantai tiga, ayo ikut aku” Roku melangkah menuju tangga di sudut ruangan tempat anak bernama Aimizu dan Garaito tadi menghilang.

“Ada dua tangga di setiap lantai, disebelah kanan, yang akan kita naiki sekarang dan di sebelah kiri” kamipun mulai menaiki tangga menuju lantai 2.

“Disetiap lantai terdapat 11 kamar dan 1 ruang televisi tempat meonton dan belajar bersama. Total kamar 22 dan setiap kamar ditinggali oleh 1 atau 2 orang tergantung keinginan penghuni”

Lantai 2 ini bernuansa Hijau Daun sepanjang ku memandang. Menyejukkan Hati. Banyak terdapat benda-benda aneh yang ku lihat sepintas lalu karena Roku langsung menaiki tangga menuju lantai.

“Lantai 2 disebut juga Lantai Bumi. Seperti yang kau lihat, Hijau dimana-mana. Dan inilah lantai tempat kau tinggal, Lantai Langit

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: